Posts

Rumpang

Tanpa harap sambil merayap Ku sapa ia dengan hangat Ramah tamah yang ku kira sudah punah Apa lagi ini? Indah sekali sambutannya, sampai hal itu bisa terasa kembali Hingga aku hampir lupa, ini bukan untuk selamanya Cerah sekali sinarnya, aku suka Digenggap erat asa, aku bahagia Tersadar aku sudah nyaris tersungkur Sumbang suara cinta terdengar menggelitik tubuh sampai rapuh jauh Lagi lagi masa itu tiba Luka itu kembali terbuka Lalui ini aku sudah biasa Lupa juga nanti aku bisa

Kekosongan Diri

Selalu ada alasan untuk menegaskan kepergianku. Hari ini aku tidak terima perkataannya. Isi pikarannya menamparku di hari selanjutanya. Tak disangka, semenit lalu ada hal baru yang menyadarkan tubuhku. Kini logika sangat menang, bahkan hati ini seolah diam tak berdaya. Tersusun rapih perihal keburukannya tepat di samping memori saat kami bersama. Bahkan kenangan manis yang katanya hanya ada di awal percintaan, tak dapat mengurungkan niatku untuk mengakhiri semuanya. Lambat laun aku sadar, untuk memilih teman hidup kita perlu berkenalan dengan diri sendiri jauh lebih dalam.  Kehadirannya membuatku sadar. Berkenalan, melakukan kegiatan yang menyenangkan, hingga saat berpisah. Kini aku mulai mengenal diriku, sedikit demi sedikit.  Saat berada di dunianya, aku melihat semua yang aku tau aku tidak perlu melakukan itu. Melewati satu tahun penuh, bergelut pada pola pikir yang berbeda. Kini aku mengenal diriku, aku tau apa yang aku butuhkan, tidak ada dalam dirinya.

Kemana?

Lari ke tepian harap ada pertemuan Diam sebentar hanya hamparan Mau sampai kapan? Terlalu ramai untuk mendadak usai Terlalu rusuh aku tak menentu Terlalu riang ingat waktu itu Rasa ini nyatanya tak punya bisa Rasa ini nyatanya tak punya kuasa Rasa ini nyatanya tak punya asa Masih sangat teringat betapa giat langkah itu membuatku terpaku hanya tertuju padamu Seolah dunia hanya ada dirimu, aku lupa bernafas bukan hanya untuk cinta Bicara soal dahulu, aku malu

Pertama

Masih ada dirimu utuh Berlabu pada suhu tubuh Rasa masih terasa Luka pun disisa Cinta pada yang lalu Merobek harap atas semua tuju Kita menjadi kembali satu demi satu, bukan mauku Walau pisah adalah usulku Kenangan ini sangat ku cinta Ku harap kau juga, denganku

Maaf, Terimakasih

hai, balik lagi dengan semua kebodohan duniawi  jatuh cinta kata mereka tak apa, coba saja aman katanya, memang sudah saatnya berubah keliatannya, panik aku mendengarnya diam salah, berdiripun aku lemah jujur, tapi bohong siapa yang akan percaya? sstt kalian baru lihat itu, belum ini kita hanya manusia katanya, hinggap di Bumi, UNTUK APA? Terimakasih banyak untuk segala bahagia yang pernah tercipta Bersyukur teramat sangat aku sebagai manusia yang tak tau apa-apa, tiba-tiba ada saja bentuknya Duniamu sungguh berwarna, aku ingin selalu ada disana Maaf, aku lupa aku siapa Maaf, untuk segala maaf yang tak berani ku ucapkan Maaf, aku bukan mengaku salah

Menstruasi

22 tahun lahir sebagai manusia Belasan tahun berlalu sebagai manusia yang katanya beranjak dewasa Proses luar biasa yang entah apa tujuannya Dengan siklus yang hampir selalu beda setiap bulannya Minum jamu di awal kalinya ia datang Menerima nasehat ini itu perihal laki-laki dan perempuan, hubungan Sampai di titik yang katanya usia produktif Kalimat "emang mens sesakit apa sih?" Masih menjadi misteri Bahkan aku sendiri, menjalaninya tanpa rasa sadar Berulang terjadi, terasa, menyiksa Jauh di luar mood swings yang selama ini laki-laki pahami Ada rasa sakit, yang aku sendiri tak tau cara mendefinisikannya Bangga menjadi perempuan, seru sang puan Kini aku sangat paham, mengapa seseorang bangga menjadi perempuan Kini aku tau, mengapa kesetaraan begitu diperjuangkan

Apresiasi diri

Pada sedih yang kita tangisi bersama Pada ribuan emosi yang kita coba kendalikan bersama Pada bahasa kalbu yang hanya aku dan kamu yang tau Terimakasih telah melangkah sejauh ini Terimakasih telah tumbuh bersama Janji ku untuk selalu utuh saat rapuh Berdamai dengan diri sendiri tak semudah basa basi Butuh ambisi untuk kembali terisi Menjadi tenang adalah angan Harapku segera untuk pulih Pada luka yang masih ada Pada ingatan yang tersimpan Terimakasih untuk diri ini atas perjalanan pilu ini Dari Fifi, untuk dirinya sendiri

Semoga dia mengerti

Merindukan yang lama berlalu Rasa yang hanya dirasa karenanya Merindukan orangnya bukanlah yang sedang kurasa Mengharapkan rasa itu terasa lagi, adalah kerinduan yang saat ini dirasa Rasanya dia tidak tau tentang rasa ini Aku merindukannya, inginnya Padahal ada sesuatu yang lebih bermakna dari sekedar merindukan fisiknya Rasa aman yang sangat terasa ketikaku bersamanya, adalah wujud nyata dari kesempurnaannya Karena ini bukan perihal mata turun ke hati Ini soal rasaku, yang kamu tidak tau Tak semua orang mengerti bahasaku, begitu pula kamu Aku tak memaksa, aku hanya tak bisa Berkata apa yang kurasa, dengan cara yang sama seperti mereka Jangan paksa, aku berbeda

Mendengarkan

Menari menikmati alur cerita, merdu sunyi suara yang lama bersembunyi. Menatap diri masih begini, berjalan menapaki jejak para petinggi. Mengulang cerita dengan aktor yang nyaris sama. Malu luar biasa amat terasa, benarkah jalan ini dilalui mereka atau aku hanya menerka hingga lupa. Melihat pilu dari berbagai hulu, sama saja. Menangis ringis ambis.  Menepi katanya jangan melamun, kabar roda berputar hambar. Meredup, nyala, hilang. Manis sekali, wujudnya. Manis sekali, ucapnya. Manis sekali, rintihnya. Maraaaahhhhhhhhhhh Mengertilah, sejenak saja Mengertilah, sekejap saja Mengertilah, sekali saja Selamanya, mengertilah

Berharap Lupa

Kudengar lagu bahagia agar lupa bila kau masih sangat ada Menangis deras aku mencoba untuk tahan Dirimu sudah jauh kukira keberadaannya Namun sekilas datang hanya untuk mengingat luka Aku kira akan baik baik saja kedepannya Tapi, tidak Masa lalu seolah terlalu baik dalam mendefinisikan dirimu dengan kejahatanmu saat itu Rapuh aku sudah sangat terbiasa Rapuh aku sudah pernah terbiasa Rapuh aku sudah hampir terbiasa Kali ini akan ku pertegas bahwa keberadaanmu, sebuah tekanan pada batinku.

TPA

Ada cerita baru di Bandung.  Pertemuan pertama dengan mantan penghuni hati. Kejadian paling dinantikan akhirnya ku rasakan.  Bandung tak seperti dulu lagi. Bukan aroma mistis seseram rompis.  Bandung kini menjadi tak kurindukan, walaupun berbau liburan. Awalnya kehadiran dia berupa kebahagiaan, ternyata itu tak terjadi lama. Kepergian datang terlalu cepat. Kita belum begitu rapat. Nyatanya pertemuan tak selalu ingin ku ulang, padahal perpisahan juga tak pernah ku undang. Pamit, dia pergi dengan sangat baik. Pertemuan berikutnya sudah hampir pasti, sampai akhirnya aku kembali terganti.

Kecepetan

Datang memberi rasa lalu tiada Sungguh, hati benar ada Aku tau akan pergi Tapi tibanya saja baru Tidak menangis Aku mau kamu Sedetik juga baik Dari tadi sudah Datangnya sambil senyum Aku rindu itu Bila secepat ini, untuk apa? Ragu juga ikut Benar hanya segini? Lalu kita apa? Dia artinya siapa? Akan kamu jawab kan? Maaf ya, memang sudah terbiasa ..tapi denganmu, berharap lama

Arsip Alam

Terjebak pada rasa tanpa nama, perihal dia tanpa ada kabarnya. Termenung membayangkan wujud sempurnanya sedang melakukan kegiatan kesukaannya. Terngiang di telingaku akan ciri khas suaranya, berharap kalimat indah untukku dapat terdengar. Menulis aku sendiri tentang sebuah rasa menyangkut dirinya. Rasa malu membuatku bungkam tanpa suara. Membiarkannya tau, bukan pilihanku untuk sekarang. Memendamnya memang tak semudah itu, namun dia juga tak perlu tau. Rindu, aku sudah sangat bosan. Hinggap di benakku tanpa peduli betapa menyiksanya itu. Masih diam di tempat sambil menatap matanya, pemilik tatapan tanpa arah tujuan. Kunikmati kalimat indahnya dengan membaca. Kurangkai kata agar cerita tak berhenti disana. Kemana kisah ini akan bermuara masih menjadi rahasia. Apapun itu, ku harap kita bahagia.

Mendadak Ada

Kau tak seperti dulu lagi Semakin abu abu sejak dini hari Aku ragu untuk menghampiri Maju selangkah untuk mengetahui ..hatimu kini sudah diisi Dan sedihnya, tak ada namaku lagi Tanpaku adalah hal biasa bagimu Kehadiranku terkadang mengganggu Mengusik bahagia masa kesendirianmu Ku hampiri mereka para penikmat sepi meneliti segala gerak saat beranjak menanjak lukaku mulai pulih, dengan sadar ia membuatku berdebar entah akan berakhir seperti apa, aku suka saat dia menyapa

Lesmana

Kehadirannya yang tiba tiba mengundang banyak tanya perihal rasa sakit di akhir cerita. Layaknya sebuah perkenalan, kita masih baik baik saja. Hanya tau nama tanpa tau duka. Dia yang dulu pernah ada berhasil mengenalkan ku dengan kecewa, membuatku tau tak semua orang punya rasa. Berdiriku kali ini tak lagi sama. Melindungi hati dengan hati hati. Aku ingin dirinya selalu ada. Aku butuh cerita yang akhirnya bahagia. Aku bosan dengan kesedihan. Kehadiranmu sangat kuhargai. Aku punya hati, ku harap kau menyadari ini.

Anonymous

Bertemu tanpa tatap dan niatan menetap Belum tau nama lengkap karena baru sekejap Samar rupamu menggelitik imajinasi Sendiri merenung menebak alur puisi Bagai awan di sore hari, pesanmu mengundang tatapan mataku Entah apa itu, aku harap tak tau Tapi kata kata itu, merampas pikiranku Sejenak berhenti di kediaman Tak sering aku merasa aman Jangan tanya aku di keramaian Perkenalan ini membingungkan Aku tak tau akan ada apa di depan Walau tanpa keraguan ..bukan berarti kebahagiaan

Mimpi

Terlalu muda untuk mengaku cinta, tapi nyatanya amat terasa. Kukira tak apa, karena cinta sejatinya untuk bahagia. Kau punya nama, dan aku ingin mengenalnya. Menguasai namamu agar bisa kujadikan ada, di dalam buku cerita cintaku. Aku rasa boleh saja, memendam pengetahuanku akan rasa ingin milikimu. Melihatmu dari kejauhan atas dasar larangan untuk mendekat. Berpesan aku pada yang Kuasa untuk bersanding denganmu. Rasa asikku menjauhkanku dari kenyataan. Menyanjungku tanpa melibatkan rasa takut. Aku tiba-tiba lupa akan satu hal di depan mata. Kenyataan kau bukan untukku, sudah diketauhi semuanya.

Karangan Bunga

Berkenalan dengan beberapa nomor yang tersusun tak berurutan, cerita ini menyapaku indah. Seolah bertema romansa, seseorang ikut terlibat dalam cerita ini dan menemaniku melanjutkannya. Tidak banyak perbedaan dari cerita yang sebelumnya. Dan cerita ini juga belum lama durasinya. Rasanya juga masih hambar. Maksudku, air mata belum terlibat dalam cerita ini sampai waktu sekarang. Seperti biasa, wujudnya masih menjadi kembaran tanda tanya. Menimbulkan banyak tanya, mengapa dia yang aku anggap ada. Jangan kira aku tau jawabannya. Sapaannya selalu menjadi kalimat yang ditunggu setiap mengawali hari. Tepatnya kalimat yang hanya bisa ku baca. Dia menyapaku dengan mengirimkan pesan melalui sebuah jejaring sosial. Tanpa banyak berharap kalimat itu dapat ku dengar. Nama lengkapnya yang belum dipastikan benar merupakan pengetahuan terbesarku selain susunan nomor itu. Hai, karangan bunga Kau hadir dimana mana Dalam duka dan suka Hai, karangan bunga Kau dirangkai penuh seni Damailah janga...

Ribut Menyambut

Tanpa sengaja datang saat tak lagi petang Berhalusinasi caraku menyambutnya Tampak mengundang penuh harap tanpa tanggap Bermain imajinasiku menari bebas di hamparan pasir alam bawah sadar Berawal dari sepi kita jalani sendiri Kini hadirmu masih terasa baru walau waktu sembunyikan wujudmu Berdasar harap aku nikmati percakapan singkat Tanpa pernah terlintas cerita pilu itu akhirnya ada Melawan sepi, haruskah ku sendiri? Bukan maksud aku untuk itu, tapi kau dimana saat kita baru sampai? Menangis entah atas alasan apalagi Berani mu diiringi ego didukung lemahnya perasaanku Kalau saja hati diam tanpa menggerutu Bila air mata tak begitu deras memamerkan kuantitasnya Kita pernah saling ada Bertatap muka tanpa menghirup udara tidak beda Jarum jam terus berputar Menunjuk angka secara berurutan Berpindah sesukanya tanpa jeda Tanpa peduli aku sedang sendu

Semu

Larut dalam kecewa ku nikmati semua Pesonamu tak kunjung bosan ku telaah Berteman sepi aku menyenderi Mencoba lupa dikala memori masih tersedia Ingin bertanya tapi dengan siapa? Merona aku di waktu itu Pilunya janji semu tak terlihat saat itu Terbungkus rapih harapku dahulu Kepergianmu masih terasa baru Mengundang rindu tanpa harap temu