Posts

Showing posts from 2020

Menstruasi

22 tahun lahir sebagai manusia Belasan tahun berlalu sebagai manusia yang katanya beranjak dewasa Proses luar biasa yang entah apa tujuannya Dengan siklus yang hampir selalu beda setiap bulannya Minum jamu di awal kalinya ia datang Menerima nasehat ini itu perihal laki-laki dan perempuan, hubungan Sampai di titik yang katanya usia produktif Kalimat "emang mens sesakit apa sih?" Masih menjadi misteri Bahkan aku sendiri, menjalaninya tanpa rasa sadar Berulang terjadi, terasa, menyiksa Jauh di luar mood swings yang selama ini laki-laki pahami Ada rasa sakit, yang aku sendiri tak tau cara mendefinisikannya Bangga menjadi perempuan, seru sang puan Kini aku sangat paham, mengapa seseorang bangga menjadi perempuan Kini aku tau, mengapa kesetaraan begitu diperjuangkan

Apresiasi diri

Pada sedih yang kita tangisi bersama Pada ribuan emosi yang kita coba kendalikan bersama Pada bahasa kalbu yang hanya aku dan kamu yang tau Terimakasih telah melangkah sejauh ini Terimakasih telah tumbuh bersama Janji ku untuk selalu utuh saat rapuh Berdamai dengan diri sendiri tak semudah basa basi Butuh ambisi untuk kembali terisi Menjadi tenang adalah angan Harapku segera untuk pulih Pada luka yang masih ada Pada ingatan yang tersimpan Terimakasih untuk diri ini atas perjalanan pilu ini Dari Fifi, untuk dirinya sendiri

Semoga dia mengerti

Merindukan yang lama berlalu Rasa yang hanya dirasa karenanya Merindukan orangnya bukanlah yang sedang kurasa Mengharapkan rasa itu terasa lagi, adalah kerinduan yang saat ini dirasa Rasanya dia tidak tau tentang rasa ini Aku merindukannya, inginnya Padahal ada sesuatu yang lebih bermakna dari sekedar merindukan fisiknya Rasa aman yang sangat terasa ketikaku bersamanya, adalah wujud nyata dari kesempurnaannya Karena ini bukan perihal mata turun ke hati Ini soal rasaku, yang kamu tidak tau Tak semua orang mengerti bahasaku, begitu pula kamu Aku tak memaksa, aku hanya tak bisa Berkata apa yang kurasa, dengan cara yang sama seperti mereka Jangan paksa, aku berbeda

Mendengarkan

Menari menikmati alur cerita, merdu sunyi suara yang lama bersembunyi. Menatap diri masih begini, berjalan menapaki jejak para petinggi. Mengulang cerita dengan aktor yang nyaris sama. Malu luar biasa amat terasa, benarkah jalan ini dilalui mereka atau aku hanya menerka hingga lupa. Melihat pilu dari berbagai hulu, sama saja. Menangis ringis ambis.  Menepi katanya jangan melamun, kabar roda berputar hambar. Meredup, nyala, hilang. Manis sekali, wujudnya. Manis sekali, ucapnya. Manis sekali, rintihnya. Maraaaahhhhhhhhhhh Mengertilah, sejenak saja Mengertilah, sekejap saja Mengertilah, sekali saja Selamanya, mengertilah