Posts

Showing posts from 2018

Mendadak Ada

Kau tak seperti dulu lagi Semakin abu abu sejak dini hari Aku ragu untuk menghampiri Maju selangkah untuk mengetahui ..hatimu kini sudah diisi Dan sedihnya, tak ada namaku lagi Tanpaku adalah hal biasa bagimu Kehadiranku terkadang mengganggu Mengusik bahagia masa kesendirianmu Ku hampiri mereka para penikmat sepi meneliti segala gerak saat beranjak menanjak lukaku mulai pulih, dengan sadar ia membuatku berdebar entah akan berakhir seperti apa, aku suka saat dia menyapa

Lesmana

Kehadirannya yang tiba tiba mengundang banyak tanya perihal rasa sakit di akhir cerita. Layaknya sebuah perkenalan, kita masih baik baik saja. Hanya tau nama tanpa tau duka. Dia yang dulu pernah ada berhasil mengenalkan ku dengan kecewa, membuatku tau tak semua orang punya rasa. Berdiriku kali ini tak lagi sama. Melindungi hati dengan hati hati. Aku ingin dirinya selalu ada. Aku butuh cerita yang akhirnya bahagia. Aku bosan dengan kesedihan. Kehadiranmu sangat kuhargai. Aku punya hati, ku harap kau menyadari ini.

Anonymous

Bertemu tanpa tatap dan niatan menetap Belum tau nama lengkap karena baru sekejap Samar rupamu menggelitik imajinasi Sendiri merenung menebak alur puisi Bagai awan di sore hari, pesanmu mengundang tatapan mataku Entah apa itu, aku harap tak tau Tapi kata kata itu, merampas pikiranku Sejenak berhenti di kediaman Tak sering aku merasa aman Jangan tanya aku di keramaian Perkenalan ini membingungkan Aku tak tau akan ada apa di depan Walau tanpa keraguan ..bukan berarti kebahagiaan

Mimpi

Terlalu muda untuk mengaku cinta, tapi nyatanya amat terasa. Kukira tak apa, karena cinta sejatinya untuk bahagia. Kau punya nama, dan aku ingin mengenalnya. Menguasai namamu agar bisa kujadikan ada, di dalam buku cerita cintaku. Aku rasa boleh saja, memendam pengetahuanku akan rasa ingin milikimu. Melihatmu dari kejauhan atas dasar larangan untuk mendekat. Berpesan aku pada yang Kuasa untuk bersanding denganmu. Rasa asikku menjauhkanku dari kenyataan. Menyanjungku tanpa melibatkan rasa takut. Aku tiba-tiba lupa akan satu hal di depan mata. Kenyataan kau bukan untukku, sudah diketauhi semuanya.

Karangan Bunga

Berkenalan dengan beberapa nomor yang tersusun tak berurutan, cerita ini menyapaku indah. Seolah bertema romansa, seseorang ikut terlibat dalam cerita ini dan menemaniku melanjutkannya. Tidak banyak perbedaan dari cerita yang sebelumnya. Dan cerita ini juga belum lama durasinya. Rasanya juga masih hambar. Maksudku, air mata belum terlibat dalam cerita ini sampai waktu sekarang. Seperti biasa, wujudnya masih menjadi kembaran tanda tanya. Menimbulkan banyak tanya, mengapa dia yang aku anggap ada. Jangan kira aku tau jawabannya. Sapaannya selalu menjadi kalimat yang ditunggu setiap mengawali hari. Tepatnya kalimat yang hanya bisa ku baca. Dia menyapaku dengan mengirimkan pesan melalui sebuah jejaring sosial. Tanpa banyak berharap kalimat itu dapat ku dengar. Nama lengkapnya yang belum dipastikan benar merupakan pengetahuan terbesarku selain susunan nomor itu. Hai, karangan bunga Kau hadir dimana mana Dalam duka dan suka Hai, karangan bunga Kau dirangkai penuh seni Damailah janga...

Ribut Menyambut

Tanpa sengaja datang saat tak lagi petang Berhalusinasi caraku menyambutnya Tampak mengundang penuh harap tanpa tanggap Bermain imajinasiku menari bebas di hamparan pasir alam bawah sadar Berawal dari sepi kita jalani sendiri Kini hadirmu masih terasa baru walau waktu sembunyikan wujudmu Berdasar harap aku nikmati percakapan singkat Tanpa pernah terlintas cerita pilu itu akhirnya ada Melawan sepi, haruskah ku sendiri? Bukan maksud aku untuk itu, tapi kau dimana saat kita baru sampai? Menangis entah atas alasan apalagi Berani mu diiringi ego didukung lemahnya perasaanku Kalau saja hati diam tanpa menggerutu Bila air mata tak begitu deras memamerkan kuantitasnya Kita pernah saling ada Bertatap muka tanpa menghirup udara tidak beda Jarum jam terus berputar Menunjuk angka secara berurutan Berpindah sesukanya tanpa jeda Tanpa peduli aku sedang sendu

Semu

Larut dalam kecewa ku nikmati semua Pesonamu tak kunjung bosan ku telaah Berteman sepi aku menyenderi Mencoba lupa dikala memori masih tersedia Ingin bertanya tapi dengan siapa? Merona aku di waktu itu Pilunya janji semu tak terlihat saat itu Terbungkus rapih harapku dahulu Kepergianmu masih terasa baru Mengundang rindu tanpa harap temu

AMDP

Terima kasih telah berbaik hati untuk telah mengorbankan hal paling berharga di hidupmu hanya untuk aku. Tak ada sedetikpun dari itu hilang tanpa berhasil mengukir luka dalam rasa. Terpecah belah sudah semua kaca dari bekuan harapan. Untuk apa sebenarnya semua ini direkayasa sedekemian rapihnya, ingin aku bertanya. Uraian kata hingga menjadi kalimat kau biarkan aku baca. Urutan mimpi hingga tragedi kau susun tanpa terselip dugaan fiksi. Sampai saat ini kau tetap menjadi seorang pematah janji, tak peduli musim telah berganti sejak tadi. Sebut saja ini hanya separuh dari bakatmu dalam menyakiti, dan aku terpilih sebagai penguji. Senang rasanya ketika mengetahui bahwa aku bukanlah satu-satunya. Ramai penontonnya, ribut suara sorakannya, hingga tak tau lagi siapa pemeran penggantinya. Rapuh aku menikmati kebahagiaan menjadi putri terhormat sebagai pemeran utama dalam karyamu. Adakah rasa bosan menghampiri sela pikiranmu saat kau terduduk lemah membayangkan betapa perihnya menjadi ...