Rahasia
Semenjak kata
“mengaggumi” terkenal sebagai sebuah alasan bagi seseorang yang sedang
menyembuyikan rasa ingin memiliki terhadap makhluk sejenisnya, kalimat “tak
adil” pun mulai terucap.
Pandangannya
yang seolah mengundangku untuk datang ke tempat yg menjanjikan keindahan
duniawi itu pun seakan tersenyum memaksa.
Andai kalimat
penolakan yang terbaca sopan dapat kutulis dengan huruf besar dan font yang menarik perhatiannya untuk menghafal
itu, tanpa harus aku meneteskan air yang tak perlu.
Bila saja
jarum jam mencapai titik jenuhnya untuk berhenti bergerak, akankah dia sanggup
untuk membantuku berhenti melakukan sebuah penantian ini dengan berteriak?
Jika semua
hal yang aku inginkan bisa langsung saja terjadi tanpa harus aku berkenalan
dengan sebuah kata bertuliskan “berusaha”, mungkin dia akan menjadi kata pertama
yang terdengar oleh mereka yang sedang bersandar.
Tidak ada yang
dapat kupastikan, semenjak aku sadar bahwa aku hanyalah ciptaan Tuhan.
Comments