Posts

Berharap Lupa

Kudengar lagu bahagia agar lupa bila kau masih sangat ada Menangis deras aku mencoba untuk tahan Dirimu sudah jauh kukira keberadaannya Namun sekilas datang hanya untuk mengingat luka Aku kira akan baik baik saja kedepannya Tapi, tidak Masa lalu seolah terlalu baik dalam mendefinisikan dirimu dengan kejahatanmu saat itu Rapuh aku sudah sangat terbiasa Rapuh aku sudah pernah terbiasa Rapuh aku sudah hampir terbiasa Kali ini akan ku pertegas bahwa keberadaanmu, sebuah tekanan pada batinku.

TPA

Ada cerita baru di Bandung.  Pertemuan pertama dengan mantan penghuni hati. Kejadian paling dinantikan akhirnya ku rasakan.  Bandung tak seperti dulu lagi. Bukan aroma mistis seseram rompis.  Bandung kini menjadi tak kurindukan, walaupun berbau liburan. Awalnya kehadiran dia berupa kebahagiaan, ternyata itu tak terjadi lama. Kepergian datang terlalu cepat. Kita belum begitu rapat. Nyatanya pertemuan tak selalu ingin ku ulang, padahal perpisahan juga tak pernah ku undang. Pamit, dia pergi dengan sangat baik. Pertemuan berikutnya sudah hampir pasti, sampai akhirnya aku kembali terganti.

Kecepetan

Datang memberi rasa lalu tiada Sungguh, hati benar ada Aku tau akan pergi Tapi tibanya saja baru Tidak menangis Aku mau kamu Sedetik juga baik Dari tadi sudah Datangnya sambil senyum Aku rindu itu Bila secepat ini, untuk apa? Ragu juga ikut Benar hanya segini? Lalu kita apa? Dia artinya siapa? Akan kamu jawab kan? Maaf ya, memang sudah terbiasa ..tapi denganmu, berharap lama

Arsip Alam

Terjebak pada rasa tanpa nama, perihal dia tanpa ada kabarnya. Termenung membayangkan wujud sempurnanya sedang melakukan kegiatan kesukaannya. Terngiang di telingaku akan ciri khas suaranya, berharap kalimat indah untukku dapat terdengar. Menulis aku sendiri tentang sebuah rasa menyangkut dirinya. Rasa malu membuatku bungkam tanpa suara. Membiarkannya tau, bukan pilihanku untuk sekarang. Memendamnya memang tak semudah itu, namun dia juga tak perlu tau. Rindu, aku sudah sangat bosan. Hinggap di benakku tanpa peduli betapa menyiksanya itu. Masih diam di tempat sambil menatap matanya, pemilik tatapan tanpa arah tujuan. Kunikmati kalimat indahnya dengan membaca. Kurangkai kata agar cerita tak berhenti disana. Kemana kisah ini akan bermuara masih menjadi rahasia. Apapun itu, ku harap kita bahagia.

Mendadak Ada

Kau tak seperti dulu lagi Semakin abu abu sejak dini hari Aku ragu untuk menghampiri Maju selangkah untuk mengetahui ..hatimu kini sudah diisi Dan sedihnya, tak ada namaku lagi Tanpaku adalah hal biasa bagimu Kehadiranku terkadang mengganggu Mengusik bahagia masa kesendirianmu Ku hampiri mereka para penikmat sepi meneliti segala gerak saat beranjak menanjak lukaku mulai pulih, dengan sadar ia membuatku berdebar entah akan berakhir seperti apa, aku suka saat dia menyapa

Lesmana

Kehadirannya yang tiba tiba mengundang banyak tanya perihal rasa sakit di akhir cerita. Layaknya sebuah perkenalan, kita masih baik baik saja. Hanya tau nama tanpa tau duka. Dia yang dulu pernah ada berhasil mengenalkan ku dengan kecewa, membuatku tau tak semua orang punya rasa. Berdiriku kali ini tak lagi sama. Melindungi hati dengan hati hati. Aku ingin dirinya selalu ada. Aku butuh cerita yang akhirnya bahagia. Aku bosan dengan kesedihan. Kehadiranmu sangat kuhargai. Aku punya hati, ku harap kau menyadari ini.

Anonymous

Bertemu tanpa tatap dan niatan menetap Belum tau nama lengkap karena baru sekejap Samar rupamu menggelitik imajinasi Sendiri merenung menebak alur puisi Bagai awan di sore hari, pesanmu mengundang tatapan mataku Entah apa itu, aku harap tak tau Tapi kata kata itu, merampas pikiranku Sejenak berhenti di kediaman Tak sering aku merasa aman Jangan tanya aku di keramaian Perkenalan ini membingungkan Aku tak tau akan ada apa di depan Walau tanpa keraguan ..bukan berarti kebahagiaan